Pondasi berpikir kita menyukai atau tidak menyukai suatu hal
Pak Imam Santoso, rekan kerja di kantor, yang hampir tidak pernah bosan mengajak saya sholat ke masjid dekat kantor jika adzan dzuhur atau ashar berkumandang, mengatakan kita semua akan menuju pintu meninggal, hanya caranya saja beda2. Tetangga dia saja dalam waktu satu bulan terakhir sudah tiga orang meninggal. Sophan Sophian, artis era th 70an dan mantan anggota dpr dari pdip pun, meninggal ketika kecelakaan menimpa moge (motor gede) yang sedang dikendarainya. Sebetulnya, tiap hari saya yakin ada orang yang meninggal menutup catatan kehidupannya, hanya saja kita tidak mengenalnya, dan tiap hari ada bayi baru lahir membuka lembaran baru kehidupan. Lalu saya teringat ada bencana besar seperti tsunami aceh yang mengakibatkan 100rb orang meninggal dalam waktu hampir bersamaan, dan saat blog ini ditulis, angin topan yang melanda Myanmar dan gempa bumi yang menghantam China mengakibatkan puluhan ribu orang meninggal dalam waktu sekejap. Orang di dunia ini, membuka catatan kehidupannya, mengisi jatah 500rb jam kehidupannya masing-masing dengan catatan masing-masing, lalu menutunya dengan cara yang ber-beda2. Pak Imam benar, itu adalah sebuah keniscayaan, kita semua akan menuju ke situ, dan adalah sebuah keniscayaan pula bahwa kita akan menghadapi sebuah pengadilan yang dihakimi oleh 4JJl SWT untuk meng-audit catatan kehidupan kita selama di dunia.
Auditor ini, punya standar sendiri untuk memeriksa catatan kehidupan kita. Dan, menilik hadits nabi Muhammad SAW , maka beliau bilang kira2 “Aku tinggalkan dua perkara yang mana jika kita berpegang teguh pada nya, kita selamat dunia akhirat, yaitu Al-Quran dan Sunnah Rasul. Jadi standar auditor nya itu, Quran dan Sunnah.
Pengajian Tafsir Quran tiap Sabtu shubuh yang dipandu oleh Ust Very, pernah membahas bahwa , hati dan pikiran pun akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh 4JJl SWT. Wow …, tidak main2. Hati dan pikiran adalah dasar kita menilai sesuatu, misalnya hiburan yang mengumbar aurat wanita, tayangan televisi, gossip, film , dlsb. Jadi jika kita tidak berhati-hati, kita akan sulit mempertanggungjawabkan hati dan pikiran kita nanti di akhirat. Namun, akan lebih mudah kita melalui proses persidangan itu jika kita menjadikan apa yang disukai 4JJl dan Rasulullah adalah apa yang kita sukai, sebab dasarnya pastinya Quran dan Sunnah kan? Aman kalo gitu.
Insipirasi ini saya dapat dari ceramah pagi di televisi, saya tidak ingat ustadz siapa yang bicara, dan di stasiun tv mana, dan itupun hanya lima menit menonton televisi sambil buru2 pamit ke orang tua ingin berangkat kerja. Ada kebiasaan positif dari ortu yang saya ambil yaitu, mereka suka nonton ceramah pagi di televisi, sehingga saya mau tidak mau sebentar atau lama menyimak juga, meskipun buru2 mau berangkat kerja. Limamenit yang berbekas mendalam pada kehidupan saya, saya berterima kasih kepada ustadz siapa pun itu yang tidak saya kenal namun memberikan pondasi berpikir yang kokoh bagi saya dalam menyukai atau tidak menyukai suatu hal. Ya 4JJl, saya tidak bisa bayangkan jika di dunia ini tidak ada ulama pewaris nabi, jadi apa saya ….